Marginal Utility
Perilaku konsumen dapat diukur dengan menggunakan pendekatan marginal
utility. Marginal utility adalah tambahan kepuasan yang diperoleh
konsumen karena menambah satu unit output yang dikonsumsi
Perilaku konsumen(pendekatan marginal) diukur berdasarkan pada 3 asumsi :
1. Utility bisa diukur dengan uang atau satuan lainnya
Kurva di atas menunjukkan dari konsumsi suatu barang X , semakin
banyak barang X yang dikonsumsi maka semakin kecil marginal utility(MU)
yang diperoleh dari barang X yang terakhir dikonsumsi(hukum Gossen).
2. Hukum Gossen (law of diminishing return) berlaku,
Law of Diminishing Return :
“Nilai guna tambahan yang akan diperoleh seseorang dari mengkonsumsi suatu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebut terus menerus menambah konsumsinya dan pada akhirnya tambahan nilai guna tersebut akan menjadi negative”
“Nilai guna tambahan yang akan diperoleh seseorang dari mengkonsumsi suatu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebut terus menerus menambah konsumsinya dan pada akhirnya tambahan nilai guna tersebut akan menjadi negative”
Jadi semakin banyak barang dikonsumsi maka tambahan kepuasan
(marginal utility) yang diperoleh dari setiap satuan tambahan yang
dikonsumsikan akan menurun.
Contoh :
Saat Anda merasa haus lalu Anda membeli minuman dingin, setelah minum
satu botol mungkin haus Anda sudah berkurang . Setelah itu Anda tambah
lagi satu botol maka dari botol kedua Anda memperoleh marginal utility,
dan seterusnya Anda akan mendapatkan marginal utility dari setiap botol
yang Anda minum namun pada titik tertentu, mungkin botol kelima Anda
sudah merasa kembung tetapi tetap minum. Di sinilah terjadi penurunan
marginal utility, karena Anda sudah tidak haus lagi tetapi menjadi mual.
3. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan total yang maksimum.
Dengan pendapatan yang terbatas, kepuasan maksimum dapat dicapai bila
konsumen bertindak menurut hukum utilitas marjinal yang seimbang :
“Permintaan atas suatu barang akan terjadi sampai suatu tingkat
dimana utilitas marjinal per rupiah yang dibelanjakan untuk itu telah
sama dengan utilitas marjinal per rupiah yang dibelanjakan untuk barang
lain.”
Marginal Cost
Marginal Cost adalah bertambahnya biaya total dikarenakan adanya
penambahan output untuk diproduksi. Oleh karena itu, dalam jangka pendek
kurva biaya per satuan (AC) maupun kurva biaya variabel per satuan
(AVC) berbentuk seperti U karena pada saat tertentu dengan bertambahnya
produksi maka biaya persatuan semakin naik.
Marginal Revenue
Output atau hasil produksi dijual dipasar sehingga produsen memperoleh pendapatan(Revenue).
Marginal Revenue adalah kenaikan atau penurunan penerimaan sebagai akibat dari penambahan produksi/penjualan satu unit output.
Output atau hasil produksi dijual dipasar sehingga produsen memperoleh pendapatan(Revenue).
Marginal Revenue adalah kenaikan atau penurunan penerimaan sebagai akibat dari penambahan produksi/penjualan satu unit output.
a. Penerirnaan total (Total Revenue = TR) adalah jumlah produk dikalikan dengan harga jual per unitnya (TR = P x Q).
b. Total Revenue(TR) > Biaya total (TC), perusahaan memperoleh laba.
Sebaliknya, TR < TC, perusahaan mengalami kerugian.
Apabila TR = TC, perusahaan tidak mengalami rugi dan juga tidak
mendapatkan laba. Situasi ini disebut Break-even point atau Titik Impas.
Perusahaan dikatakan dalam keadaan mengalami “keseimbangan”
(equilibrium of the firm) Bila jumlah produksi diatur sedemikian rupa
sehingga perusahaan mencapai laba maksimal. Hal tertentu terjadi apabila
MC = MR. Marginal Profit adalah tambahan laba yang diperoleh pada saat
jumlah output yang dihasilkan atau dijual diperbesar. Marginal Profit
merupakan selisih Marginal Revenue dikurangi Marginal Cost.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar